Usaha Tutup Gara-Gara Pandemi, Demi Lima Anaknya Bucek Mengadu Nasib ke Mimika - Antar Papua News -
Berita  

Usaha Tutup Gara-Gara Pandemi, Demi Lima Anaknya Bucek Mengadu Nasib ke Mimika

Bucek, saat sedang melayani seorang pria yang membeli dagangan roti miliknya kala berteduh, di Jl. Leo Mamiri, Mimika Papua. Kamis (28/7/2022). (Foto: Wahyu/APN).

Timika, APN – Pandemi covid-19 sangatlah berdampak pada ekonomi masyarakat dunia juga Indonesia. Hal tersebut juga dirasakan seorang pemuda asal Sukabumi Jawa Barat bernama Bucek.

Saat ditemui antarpapuanews.com pada Kamis (28/7/2022) di Jalan Leo Mamiri, Bucek pun mulai menceritakan perjuangannya demi menghidupi istri dan 5 anaknya.

Bucek mengatakan dahulu memiliki usaha sepatu yang akhirnya harus kandas akibat pandemi covid-19. Namun meski usahanya gulung tikar, Bucek tidak menyerah. Ia pun memilih mengadu nasib ke Mimika untuk menyambung hidup.

Bucek hijrah ke Mimika karena undangan seorang teman yang katanya sudah tinggal di Kota Dollar ini selama 7 tahun.

Laki-laki berkulit sawo matang tersebut akhirnya diterima kerja di salah satu pabrik roti yang berlokasi di Jl. Pattimura, Gang Toba, Mimika Papua yang juga sekaligus sebagai tempat ia tinggal.

Kini, Bucek pun sehari-hari berjualan roti keliling di Mimika, dengan cara dipikul. Kayu dan tripleks disulap menjadi dua buah kotak mini berisi roti yang dicat berwarna hijau, agar pembeli bisa melihat rotinya, ia menambahkan plastik bening disetiap kotak, mirip seperti jendela, di dalamnya berjajarlah roti aneka rasa.

“Di Bandung biasa jualan sepatu sih, obral sepatu kadang ke Sulawesi, ke Aceh, ke Kalimantan, berhubung sekarang kan korona jadi daya beli kurang, terus karena itu juga kalah sama (jualan online) akhirnya sampai lari ke pelayaran (nelayan), lari ke proyekan (bangunan),” ujarnya.

Hari demi hari dilewati ayah lima orang anak ini, mengukur jalan di setiap sudut kota Timika dengan berjalan kaki demi menafkahi keluarga kecilnya di kampung halaman.

Bucek yang saat itu menggunakan kemeja biru lengkap dengan celana panjang, sepatu serta topi berwana hitam itu mengaku cukup kesulitan saat tiba di Mimika, karena harus beradaptasi dengan cuaca yang sangat tak bersahabat, belum lagi makanan di Mimika.

Bucek sembari melayani pembeli menyampaikan saat berjualan dirinya sering bertemu pemabuk yang meminta roti gratis kepadanya.

“Kaget sih, tapi yah perlahan terbiasa, cuman kadang-kadang kalau ketemu orang mabuk itu doang yang kadang saya rasa ngeri, cuman ya begitulah. Suka mintain roti, kadang kalau ngga dikasih gimana, dikasih juga gimana, ya sudah dikasih saja, asalkan jangan nyawa aja,” sambungnya.

Roti yang dijualnya bisa dibanderol dengan harga Rp2000, di dalam kotak rotinya, tersedia berbagai macam rasa seperti  coklat, keju, kacang ijo, kelapa, mesis, srikaya dan rasa paha ayam menjadi harapan bagi Bucek mencari rezeki.

“Setiap roti yang dibawa harus disetor, tapi untungnya ada toleransi jadi kita setornya yang laku saja, kalau yang tidak laku kita kemas nanti masukin ke plastik dan dikasih strip. Kendalanya disini cuaca doang sama orang mabuk,” tuturnya.

Sementara itu, Bucek tidak memiliki upah bulanan, dari hasil dagangannya, Bucek harus menyetorkan ke pemiliknya sesuai angka yang ditentukan.

“Pokoknya kita cari setor, berapa sisanya ya itu untuk kita itu, misalkan Rp160.000, untuk kita Rp40.000, tergantung penjualan juga, kalau habis ya kita untung, kalau ngga ya gimana,” ucapnya.

Beruntung, selama berada di Timika, Bucek cukup terbantu dengan adanya fasilitas huni dan makan minum yang sudah ditanggung oleh pemilik usaha pabrik roti tersebut.

Penulis: WahyuEditor: Sani
WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE
%d blogger menyukai ini: