fbpx

Peringati Hari TBC Sedunia, Kadinkes Mimika: Penanganan TB di Mimika Dilakukan dengan Baik

Kadinkes Mimika saat memberikan penghargaan kepada fasilitas kesehatan yang berperan aktif dalam menekan dan merekam kasus TB di Mimika, Kamis (31/3/2022). (Foto: Aji/APN) 

Timika, APN – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menilai penanganan Turbecolosis (TB) di Mimika telah dilaksanakan dengan baik.

Hal ini disampaikannya dalam kegiatan peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia di Ballroom Hotel Horison Diana, Timika, Kamis (31/3/2022).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra menyampaikan bahwa penanganan TBC di Mimika sejauh ini dapat dikendalikan.

“Ini terlihat dari angka temuan kasus dan juga keberhasilan pengobatan yang ada di angka 75 persen. Kami mengejar sekitar 10 persen lagi karena minimal di 85 persen,” jelasnya.

Reynold melanjutkan yang perlu dikhawatirkan di sini adalah TBC pada anak terutama yang ekstrak paru.

“Itu (TBC pada anak) yang perlu dilakukan investigasi kontak sehingga kami saat ini sedang menjalani investigasi kontak dan screening TBC. Screening TBC yang saat ini sedang dilakukan itu targetnya adalah 100 ribu orang yang kami screening. Kemudian nanti kita rilis di bulan Juni tahun 2022 ini,” terangnya.

Sedangkan untuk deteksi kasus, kata dia, targetnya akan dinaikan menjadi sekitar 10 ribu orang.

“Kalau tadi kita lihat targetnya 1500 kemudian kita dapat 1700 kasus, kita mau menaikan pemeriksaaan deteksi kasus aktif pada orang yang diduga TBC,” ucapnya.

Sementara itu, dia juga menyampaikan bahwa sampai dengan tahun 2021, jumlah kasus TBC telah menurun drastis.

“Dari 1700 kasus TBC, sekitar 75 persen atau 900 sekian yang sudah dinyatakan sembuh. Sisanya masih dalam pengobatan, karena pengobatannya itu 6 bulan sampai 1 tahun,” ujarnya.

Acara peringatan Hari TBC Sedunia dengan tema ‘Investasi untuk Eleminasi TBC, Selamatkan Bangsa’ ini dibuka oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Ekonomi, Andi Ramli Teru.

Sementara itu, Staf ahli Bupati Mimika Andi Ramli yang datang mewakili bupati, meminta semua sektor untuk melakukan invenstasi seperti finansial dari pemerintah, sektor swasta, lembaga donor dan individu demi menurunkan dampak ekonomi TBC yang selama ini menjadi tantangan.

“Selain investasi dari segi finansial, ini juga termasuk usaha, tenaga, waktu dan jiwa raga dalam upaya penanggulangan TBC,” ujarnya.

Andi juga menyampaikan Kabupaten Mimika merupakan tiga Kabupaten di Provinsi Papua dengan beban TBC tertinggi, hal ini mengindikasikan bahwa penyakit TBC memang telah berkembang di masyarakat, dan baiknya Dinkes melakukan pelacakan kasus.

“Hampir di semua fasilitas kesehatan yang terdapat di perkotaan maupun di distrik dan kampung, baik secara pasif maupun aktif telah menemukan penyakit ini,” jelasnya.

Andi menyampaikan dalam momentum peringatan Hari TBC Sedunia ini, dia meminta peran aktif semua sektor agar turut terlibat dalam program penanggulangan TBC.

“Seluruh lapisan masyarakat, termasuk keluarga, dan segenap jajaran lintas sektor serta semua pemangku kepentingan diharapkan mendukung program penanggulangan TBC dan menempatkan TBC sebagai masalah yang harus diselesaikan bersama,” ucapnya.

Menurutnya, ada enam hal yang masih perlu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan TBC demi mempercepat eliminasi TBC di Mimika, yakni sebagai berikut.

Pertama, perlunya komitmen pelaksana pelayanan, pengambil kebijakan, dan pendanaan untuk operasional, bahan serta sarana prasarana.

Kedua, pentingnya keterlibatan lintas program dan lintas sektor dalam penanggulangan TBC. Ketiga, memastikan masyarakat dapat mengakses layanan TBC khususnya di daerah terpencil, lokasi permukiman padat seperti asrama, barak dan lapas/rutan.

Keempat, tersedianya tenaga terlatih serta menerapkan layanan TBC dengan strategi dots. Dilakukan pemantauan pengobatan serta dilakukan pencatatan dan pelaporan.

Kelima, melakukan intervensi terhadap faktor kesehatan lain yang bisa berpengaruh terhadap resiko terjadinya TBC secara signifikan seperti HIV, gizi buruk, diabetes, mellitus, merokok serta suatu keadaan yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh.

Keenam, mengobati pasien sesuai standar guna mencegah terjadinya kekebalan ganda kuman TBC terhadap obat anti TBC.

“Upaya eliminasi TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan saja, tetapi tanggung jawab semua sektor dan setiap individu yang ada,” pungkasnya.

Writer: AjiEditor: Sani

Leave a Reply

error: Hak Cipta antarpapuanews.com
%d bloggers like this: