fbpx
Umum  

Menjadi Seorang Ibu dan Jurnalis

Ilustrasi

Timika, APN – Jurnalisme atau kewartawanan adalah sebuah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan peristiwa. Pengertian lainnya adalah pengumpulan bahan berita (Peliputan), pelaporan peristiwa dan penulisan berita. Jika melihat dari beberapa pengertiannya maka terbesit dibenak kita, bagaimana sulitnya menjalani profesi sebagai jurnalis, wartawan atau bisa juga disebut sebagai insan pers tersebut.


Ibu menurut pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti wanita yang telah melahirkan seseorang, sementara pengertian yang menarik lain adalah seseorang yang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa bayaran.
Membaca pengertian Ibu tersebut dari sebuah mesin pencari di internet membuat saya semakin bertanya bagaimana jika dua peran rumit yakni menjadi seorang jurnalis dan Ibu dilakukan sekaligus? saya tidak dapat membayangkan betapa sulitnya hal tersebut.


Kristin Rejang merupakan seorang wartawan media online di Mimika sekaligus seorang Ibu dan juga istri, Ia mengakui jika menjalani peran ganda tersebut tidaklah mudah, terutama saat harus meninggalkan anak semata wayangnya.


“Pembagian waktu antara menjadi ibu rumah tangga dan jurnalis itu berat, terlebih profesi ini menuntut untuk selalu siap 24 jam, terkadang pagi kita sudah harus keluar (liputan) kemudian kita tidak tahu jam pulang kita jam berapa,” katanya saat ditemui antarpapuanews.com, Selasa (8/2/2022).


Wanita yang sejak 2016 menjadi seorang Jurnalis ini juga menyampaikan pukul 05.00 WIT, Ia sudah harus memasak untuk buah hatinya, kemudian saat suaminya yang bekerja di salah satu perusahaan tambang pulang ke rumah, maka perannya pun bertambah menjadi seorang istri.


“Kalau hanya sama anak, waktu saya masih sedikit luang, namun saat ada suami yang kebetulan pulangnya dua minggu sekali, maka harus ada dua orang yang saya urus, jadi saya bangun pagi untuk memasak sarapan,” ungkapnya.


Kristin juga membagikan suka duka ketika menjalani peran tersebut, menurutnya mustahil menyelesaikan sebuah berita saat berada di rumah karena Ia harus menemani putranya bermain, karena ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.


“Memang mencintai dua peran (Ibu dan Jurnalis) itu selalu ada rasa sedih karena harus meninggalkan anak, rasa itu selalu ada pada saya, tetapi kembali lagi, itu adalah konsekuensi yang harus saya hadapi, itu juga jadi pergumulan (keresahan hati) yang selalu saya bicarakan dengan suami,” paparnya.


Namun kendala yang dihadapi tersebut memberikan dampak positif bagi Kristin, karena membuatnya lebih displin dalam mengatur waktu untuk dua peran yang dijalankannya tersebut.
DItanya soal apakah ada larangan dari pasangan, Kristin mengaku hingga saat ini sangat bersyukur karena didukung penuh oleh keluarga dan suami untuk menjalankan dua profesinya tersebut.


“Puji Tuhan dukungan itu diberikan oleh keluarga dan suami,” katanya.


Senada salah seorang wartawati surat kabar di Mimika Elsina Barbalina Msen atau biasa dipanggil Eci mengaku memiliki dua profesi sekaligus tidaklah mudah, sehingga Ia terus berusaha membagi waktu agar dua perannya bisa berjalan bersamaan.


“Iyah antara keduannya (menjadi ibu dan jurnalis) dinikmati saja dengan penuh syukur dan berusaha agar tetap berimbang antara kedua tanggungjawab ini. Tidak ada pekerjaan yang sulit, yang sulit itu kalau kita tidak berusaha dan bersyukur atas kerja kita,” ucapnya.


Eci juga menyampaikan tidak menyesal karena harus menjalani dua peran tersebut dan harus meluangkan waktu lebih banyak dengan pekerjaan ketimbang dengan tiga putranya.


“Kalau penyesalan tidak ada, karena ini sudah resiko kerja saya, menyeimbangkan dua peran dan waktu menurut saya adalah kuncinya, meskipun waktu dengan anak-anak tidak maksimal, kalau ditanya tentang dukungan atau pernah ada protes dari pasangan tentunya ada, tetapi tidak protes yang berlebihan, sampai sekarang pun kami selalu saling dukung,” ujarnya yang sudah menekuni profesi jurnalis sejak 2010 tersebut.


Pernyataan cukup menarik disampaikan oleh seorang jurnalis media online lainnya Siti Aminah. Menurut Siti atau yang akrab dipanggil dengan Sita, menjalani dua peran tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus ditaklukan dan mengasyikan.


“Saya sudah sejak 2010 menjadi seorang jurnalis sekaligus ibu rumah tangga, waktu kerja yang fleksibel membuat saya bisa menjalankan peran keduannya dengan mudah,” katanya.


Sita menambahkan sisi positif yang didapatnya dalam menjalankan dua peran tersebut adalah ketiga buah hatinya yang lebih mandiri sejak dini.


“Ketiga anak saya jadi terasah menjadi pribadi yang kuat karena saya sering di luar rumah, bahkan jika ada peliputan yang mengharuskan saya di luar rumah untuk beberapa hari, itu membuat mereka semakin mandiri,” katanya.


Ditanya soal kenapa ketiganya masih mencintai profesi jurnalis dan pers, ketiganya sepakat jika menjadi insan pers memberikan pengalaman yang sangat luar biasa, bertemu dengan orang-orang baru serta menjadi “telinga” dan “lidah” masyarakat secara tidak langsung, terus belajar karena setiap saat harus bertemu narsumber yang berbeda, membuat ketigannya berat meninggalkan profesi yang dituntut untuk siap selama 24 jam tersebut.

Leave a Reply

error: Hak Cipta antarpapuanews.com
%d bloggers like this: