fbpx

Kekerasan Perempuan dan Anak di Mimika Tiap Tahun Alami Peningkatan

Timika, APN – Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Mimika meningkat tiap tahunnya, diperkirakan peningkatan tersebut sejalan dengan maraknya minuman keras.

Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob menyebut jika minuman keras merupakan sumber dari berbagai kasus mulai dari kriminal, kecelakaan lalu lintas hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Ilustrasi

“Mama-mama, saya pesan jangan kasih uang buat kalau bapak-bapak cuma untuk mabuk, kalau ada mabuk jangan buka pintu, kasih biar mereka di luar rumah saja,” kata Wabup dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Lembaga Penyedia Layanan Penanganan Perempuan Korban Kekerasan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2KB), di Jl. Yos Sudarso, Rabu (16/6/2021).

Lanjutnya, tugas dari Pemerintah Kabupaten adalah mencari penyebab utama peningkatan, lalu melakukan intervensi.

“Pemerintah harus cari penyebab, karena bisa juga kekerasan karena memang orangnya seperti itu, atau karena miras, Pemerintah harus cari penyebab terbanyak, seumpama miras jadi penyebab utama Pemerintah harus ketat seperti ada pengawasan dan pembatasan terhadap hal itu,” imbuhnya.

Selain karena miras, menurut John kekerasan juga disebabkan oleh kondisi kejiwaan sehingga setiap orang harus dapat mengontrol diri, bermoral, dan etika yang kuat.

Akibat dari kekerasan yang terjadi kata John banyak korban mengalami trauma berkepanjangan dan mendalam.

“Trauma ini membuat korban merasa tidak nyaman, waktu itu terjadi juga di salah satu Sekolah di Mimika, korban ada sebagian yang sudah bersekolah kembali tetapi ada rasa takut dan trauma pada mereka, saat melihat tempat tertentu di sekolah itu, inilah wujud dari trauma tersebut,” kata Wabup.

Pendampingan panjang dalam penyembuhan trauma pasca kejadian kata Wabup menjadi hal yang krusial dan harus dilakukan oleh seluruh pihak, tidak hanya dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika.

“Pemulihan ini adalah hak bagi para korban, dan harus menjadi perhatian semua pihak. Layanan tidak hanya menunggu tetapi harus pro aktif, begitu pula masyarakat, harus lapor jika ada kejadian, agar kita bisa melihat sejauh mana peningkatan kasus agar mudah dilakukan intervensi,” ucapnya.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak menurut Wabup dapat terjadi di mana saja dan dilakukan oleh siapa saja termasuk orang terdekat.

“Kekerasan bisa dilakukan oleh kakak, adik, istri, suami, atau siapapun, sehingga kita perlu waspada dan selalu mengedepankan penyelesaian masalah dengan kepala dingin,” tutupnya.

Sementara itu, menurut data Dinas Pemberdayaan Perempuan sejak Januari hingga Maret pihaknya telah menangani sebanyak 20 kasus belum termasuk 25 kasus yang dilakukan oknum guru sekolah taruna Papua. Kemudian untuk tahun 2020 kasus kekerasan yang tercatat hanya mencapai 33 kasus. (Aji-cr01)

Leave a Reply

error: Hak Cipta antarpapuanews.com
%d bloggers like this: