fbpx

Kejar Target Cakupan Imunisasi Anak, Dinkes Mimika Bahas Strategi Dengan Sekolah

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra saat memaparkan capaian cakupan imunisasi anak sekolah di Mimika pada peserta Demand Creation Strategy Program BIAS, BICR dan Imunisasi Covid-19 Bagi Anak Usia 6-11 Tahun Kabupaten Mimika Tahun 2022 di Hotel Horison Ultima, Senin (14/3/2022). (Foto: Sani/APN)

Timika, APN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika menggelar diskusi dengan pihak sekolah tingkat SD dan TK untuk membahas strategi pemberian imunisasi pada anak usia sekolah, umur 6-11 tahun. Sehingga target cakupan imunisasi dari pemerintah pusat dapat tercapai di Mimika.

Kegiatan bertajuk Demand Creation Strategy Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), Bulan Imunisasi Campak Rubela (BICR) dan Imunisasi Covid-19 Bagi Anak Usia 6-11 Tahun Kabupaten Mimika Tahun 2022 tersebut diselenggarakan di Hotel Horison Ultima, Senin (14/3/2022) dan Selasa (15/3/2022).

Pada Senin (14/3/2022), Dinkes Mimika memberi sosialisasi pada sekolah tingkat SD dengan target peserta 70 Kepsek SD se Mimika dan dibuka Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra.
Reynold mengatakan, target cakupan imunisasi yang ditetapkan pemerintah pusat untuk anak usia sekolah adalah 95%. Namun pada sudah dua tahun belakangan yaitu 2020 dan 2021 cakupan imunisasi anak di Mimika sangat menurun.

“Tahun 2020 cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) hanya mencapai 60,7% dari total sasaran sebesar 5.151 bayi. Cakupan IDL 2021 baru mencapai 64,8%. Bagaimana di 2022 ini kita bisa tingkatkan lagi,” katanya.

Karenanya, perlu sinergitas dan kerjasama baik antara Dinkes Mimika dan Dinas Pendidikan melalui sekolah. Sehingga anak-anak bisa terlindungi kesehatannya dari penyakit campak, rubella, maupun covid-19.

“Kita berkumpul di sini untuk membuat strategi imunisasi, bagaimana melindungi anak-anak. Sehingga ketika mereka berkerumun tidak menularkan penyakit. Jika satu saja anak sakit dan berkerumun yang lain tidak terlindungi, akan menjadi masalah kesehatan,” ujarnya.

Reynold mengatakan, cakupan imunisasi harus terjaga sehingga bisa membentuk herd immunity pada anak. Dengan pertemuan ini diharapkan pihak sekolah bisa memberi masukan pada Dinkes agar imunisasi dapat berjalan baik.

“Jika dibagi tugas, Dinkes dan Disdik bisa berbagi kebijakan. Untuk tingkat teknis bagaimana pihak sekolah bisa memfasilitasi komunikasi dengan orang tua. Jika sudah sosialisasi, dinkes masuk untuk imunisasi,” terangnya.

Reynold mengakui, beban sekolah kali ini adalah meyakinkan orang tua murid. Apalagi di masa pandemi covid-19 banyak missinformasi yang beredar dan bisa mempengaruhi orang tua murid pada akhirnya perdampak ke anak.

Kegiatan tersebut juga didukung penuh oleh UNICEF Tanah Papua melalui mitranya Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan Papua (YP2KP) Mimika.

Konsultan Unicef Program Imunisasi, Supingatin mengatakan, Unicef sangat mendukung kegiatan tersebut agar perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi cakupan imunisasi bisa terlaksana. Unicef Papua akan mendukung pemerintah daerah agar memenuhi target imuniasi nasional. Dimana imunisasi rutin ditargetkan minimal 95% kalau bisa 100 %, BIAS ditargetkan 98%, vaksinasi covid ditargetkan minimal 70%.

“Kita berharap target imunisasi bisa tercapai karena kebetulan tahun ini hampir bersamaan waktu pelaksanaan imunisasi dan vaksinasi covid 19 untuk anak usia 6-11 tahun. Sebab, jika cakupannya tinggi dan merata bisa mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Karena beberapa daerah sudah bermunculan KLB PD3I terutama rubela,” pungkasnya.

Leave a Reply

error: Hak Cipta antarpapuanews.com
%d bloggers like this: