fbpx
Umum  

Jelang Rekonsiliasi, Ribuan Masyarakat Suku Mimika Wee dan ACP Mengarak Salib Yesus

Wabup Mimika, Johannes Rettob bersama ribuan masyarakat Mimika Wee dan saat tiba di pelabuhan Atapo, Kokonao usai mengarak Salib Yesus, Sabtu (23/4/2022). (Foto: Anis/APN)

Timika, APN – Menuju puncak acara rekonsiliasi untuk perubahan nama suku dari Kamoro menjadi Mimika Wee, ribuan masyarakat Mimika Wee bersama Anak Cucu Perintis (ACP) mengarak Salib Yesus menuju pelabuhan Atapo Kokonao, Distrik Mimika Barat, Sabtu (23/4/2022). Puncak rekonsiliasi dilakukan Minggu (24/4/2022).

Ketua Panitia, Rekonsiliasi Mimika Wee, Dominikus Mitoro, mengatakan, masyarakat Mimika Wee sangat berantusias dan menyambut gembira perubahan kembali nama suku Kamoro menjadi Mimika Wee.

“Makna perubahan nama ini, dulu Kamoro itu dinamakan pada tahun 1996 pada musyawarah adat (Musdat) Kamoro pertama pada tahun 1996. Disitu, ada beberapa orang tidak setuju dengan nama Kamoro ini, kita pertahankan bahwa kita ini Mimika Wee, artinya orang Mimika. Tetapi karena  banyak orang  – orang tua  yang mendukung dengan nama Kamoro,” jelas Dominikus Mitoro pada awak media usai mengarak Patung Yesus.

“Kami berpikir, selama nama ini dengan memakai nama Kamoro, kita tetap tinggal di tempat, kita tidak bergerak ke mana – mana, baik itu di pembangunan, jabatan pemerintahan, Gereja, anak – anak kita tidak jadi sekolah sebagai pastor dan lain sebagainya. Artinya kita tetap tinggal ditempat,” tambahnya.

Dominikus melanjutkan hal tersebut menurutnya karena nama Kamoro, menurut kepercayaan membuat masyarakat asli terganjal dan tidak berkembang.

“Saya berpikir demikian dan mengusulkan pergantian nama kembali melalui rekonsiliasi, pastor Marthen dari keuskupan juga betul – betul menyetujui apa yang saya sampaikan ini. Perencanaan perubahan nama ini, hanya 2 bulan saja. Sehingga Pastor dari keuskupan juga mendorong, sehingga dibentuklah Panitia untuk penyelenggaran ini,” ucapnya.

Dominikus menjelaskan, Mimika itu, artinya “arus air”, dari gunung, akhirnya Kampung ini dinamakan Mimika.

“Ingat, bahwa orang Mimika itu tidak pernah bikin Kampung ditengah hutan, tapi Kampung itu selalu ada di pinggir sungai karena orang Mimika itu dengan filosofi adalah 3 S, yaitu Sungai, Sampan, Sagu,” terang Dominikus.

Sementara, untuk Kamoro, kata Dominikus Mitoro, bahwa Kamoro mempunyai arti orang hidup. Tetapi itu menjadi beban karean saat “Manusia” berhasil  mengalahkan “Setan” mereka (setan) malah terus menganggu hingga saat ini.

“Jadi waktu itu ada cerita dongeng bahwa, manusia hidup dan setan ini baku tawar, dan setan mengajak manusia hidup untuk ikut mereka (setan) tetapi manusia hidup tidak mau. Tapi bukan berarti kita (manusia hidup) lolos, Tapi setan tetap ikuti terus untuk membujuk manusia Kamoro ini,” tuturnya.

“Akhirnya, saya berpikir bahwa nama Kamoro ini harus dirubah seperti yang dahulu, yaitu Mimika Wee,” sambungnya.

Dengan adanya pergantian nama Kamoro menjadi Mimika Wee ini, Dominikus berharap semua masyarakat Mimika Wee kembali suci dan bersih, sehingga moyang, leluhur, alam, dan Tuhan akan mendukung agar anak cucu bisa maju dan lebih baik.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa Ibadah rekonsiliasi ini tujuannya untuk mengaku kesalahan – kesalahan, atau dosa – dosa yang pernah dilakukan.

“Jadi, ini saatnya kita sucikan, bersih diri, sehingga kedepannya sebagai orang Mimika Wee yang betul – betul maju,” ucapnya.

Sementara, Administrator Keuskupan Timika, Pastor Marthen Ekowaibi Kuayo, menjelaskan rekonsiliasi artinya pemulihan. Pulihkan dari keadaan sebelumnya, seperti merasa terganggu, dirusak atau putus. Maka sekarang mau pulihkan.

“Dalam kehidupan manusia pasti ada yang buat dosa, seperti pembunuhan, dan lain sebagainya, sehingga mungkin ada kutukan – kutukan atau selau menganggu hidup orang Mimika Wee. Maka dengan Salib Yesus mau pulihkan dalam Namanya (Yesus), dan diangkat dalam Nama dia (Yesus) yang telah berkorban bagi orang sini,” terangnya.

Leave a Reply

error: Hak Cipta antarpapuanews.com
%d bloggers like this: