Jasa Prostitusi di Luar Kilo 10 Makin Marak, Ekonomi Lokalisasi Kilo 10 Terpuruk – Antar Papua News -

Jasa Prostitusi di Luar Kilo 10 Makin Marak, Ekonomi Lokalisasi Kilo 10 Terpuruk

Java Music, salah satu BAR di lokalisasi kilometer 10, Kampung Kadun Jaya, Distrik Wanita, Mimika Papua. (Foto: Wahyu/APN)

Timika, APN – Kondisi ekonomi di lokalisasi di Kilometer 10 (Kilo 10) Kampung Kadun Jaya, Distrik Wania, Mimika Papua, kian terpuruk sejak lima bulan lalu akibat dampak dari maraknya penyedia jasa pekerja seks komersil (PSK) ilegal di kota Timika.

Berdasarkan data yang dihimpun antarpapuanews.com, menyusutnya omset secara umum di lokalisasi kilo 10 ini terjadi lantaran banyaknya timung-timung di tengah-tengah kota Timika yang diduga menyediakan jasa PSK baik secara online maupun non-online.

Selain timung, sejumlah penginapan juga diduga menyediakan jasa pekerja seks komersil.

Menurut Ketua Mucikari Mutarom adanya praktek prostitusi diluar kilo 10 sangat membahayakan karena dari sisi kesehatan tentu tidak terkontrol sehingga bisa saja berbahaya akan penyebaran penyakit HIV dan AIDS.

“Untuk ekonomi sekarang di kilo ini ya bisa dikatakan hancur. Satu sisi di kota sudah merajalela dan ini yang harus kita tegaskan. Kemaren sudah saya sampaikan ke Wakil Bupati kebetulan beliau berkunjung di sini. Masa kota sekecil ini mau dijadikan sampah masyarakat. Timung-timung juga saya sampaikan kalau bisa jangan ada penambahan,” tutur Mutarom, ketua Mucikari di lokalisasi kilometer 10 saat ditemui di kediamannya. Senin (30/5/2022).

Dikatakan Mutarom, dirinya juga sudah mengajukan kepada pihak pemerintah dalam hal ini Wakil Bupati Kabupaten Mimika dan meminta solusi guna mengatasi hal tersebut.

Menurut Mutarom, jika pemerintah dapat menertibkan penyedia jasa prostitusi di luar kilo maka kondisi ekonomi di lokalisasi yang berada di Mimika sejak 29 tahun lalu tersebut akan berangsur membaik.

“Kami yang disini yang sudah ditempatkan dengan surat izin, dengan tempat yang sudah dikenal satu kota ini, itu diluar masih diizinkan, itu yang terkadang kami sesalkan,” kata Mutarom.

Selain penginapan dan timung-timung, Mutarom juga membeberkan bahwa sejumlah rumah kost di Timika juga diduga menyediakan jasa layanan tersebut.

Ia juga mengatakan, sejak pandemi covid-19, sejumlah PSK memilih untuk hengkang dari lokalisasi km 10 dan memilih untuk mencari penghasilan sebagai penyedia jasa prostitusi.

“Maunya kami, diamankan di kota lalu dijadikan satu tempat disini (km 10) jadi tidak menjadi sampah masyarakat, mungkin dari pihak pemerintahan, dari pihak terkait bisa bekerjasama dengan baik, kembalikan pramuria yang di kota itu ke lokalisasi lagi, mungkin nanti rame dan ekonomi juga akan naik,” katanya.

Mutarom mengklaim selama ini km 10 sudah mematuhi seluruh aturan yang ditetapkan pemerintah, baik dari sisi pembayar pajak (tempat hiburan), protokol kesehatan hingga aturan-aturan lainnya yang sudah ditetapkan pemerintah.

“Ketika nanti ada masalah yang tidak kita inginkan, contohnya ada yang sakit, ada yang meninggal maka akan kembali ke kami karena orang-orang tahu oh ini mantan PSK kilo 10, jadi mau ngga mau kita ini akan bekerja sama menyelesaikan administrasinya di rumah sakit sekalian pemakamannya, mungkin ada bantuan dari pihak pemkab berapa-berapa sih, yang jelas 85 persen kilo 10 akan terima dampaknya, ini bukan satu kali tapi sudah berkali-kali,” keluh Mutarom.

Sementara itu, walau terdampak akibat kondisi ekonomi yang menyusut di masa transisi pandemi ke normal, kondisi kesehatan dan kebutuhan sehari-hari para PSK di lokalisasi kilo 10 masih terjamin dan terpenuhi. Seluruh permasalahan tersebut dibebankan kepada pemilik usaha (Bar) yang mendatangkan PSK dari luar Timika.

Saat ini, total PSK sendiri di lokalisasi kilometer 10 saat ini sebanyak 256 PSK yang dibagi ke 20 bar yang berada di lokalisasi tersebut dengan usia rata-rata dibawah 35 tahun dan diatas 25 tahun.

Sementara untuk pendapatan di lokalisasi kilo 10 secara umum dari masing-masing BAR tidak dapat ditentukan. Bahkan sejak awal pandemi covid-19 hingga kini para pemilik bar tidak dapat menentukan nilai omset harian ataupun bulanan dari tempat usaha miliknya karena pendapatan yang tak pasti.

Penulis: WahyuEditor: Aji
%d blogger menyukai ini: