fbpx

Harga Kedelai Melonjak, Pedagang Tempe Tahu Butuh Subsidi

Pengusaha Tempe dan Tahu Mimika Maryatun. Foto: Aji/APN

Timika, APN – Melonjaknya harga kedelai membuat pedagang tempe dan tahu di Mimika mengeluh.

Pengusaha tempe di Mimika Maryatun mengatakan, jika harga kedelai naik maka harga tempe dan tahu pasti juga akan naik.

“Kita kan dulu awalnya satu karung kedelai harga normal awal korona sampai pertengahan harganya Rp 422 ribu per karungnya. Itu sudah mahal, terus naik sampai harga sekarang Rp 750 ribu per karung dengan berat 50 kg,” ujarnya saat ditemui di pabrik pengolahan tahu dan tempe yang berada di Jalan Berdikari, Wania, Mimika, Rabu (30/3/2022).

Maryatun mengatakan, berbagai langkah telah dilakukan olehnya dengan rekan pengusaha tempe lain untuk menyikapi kenaikan harga. Salah satunya adalah mengurangi volume tempe sehingga ukurannya lebih kecil dengan harga yang sama.

“Ini kalau ukuran tempe mau dikecilkan-dikecilkan tidak turun. Jadi awalnya tempe ini Rp 10.000 dapat 8 buah sekarang dikurangi 7 buah. Terus tahu awalnya Rp 2.000 dijadikan Rp 2.500 per biji, harga pengecer 1 buah Rp 2.000, yang besar Rp 10.000 dapat 3, sekarang Rp 4.000 dapat 1. Ukuran lebih kecil biasanya 12 tapi sekarang Rp 10.000 kita kurangi jadi 10, (khusus harga pabrik),” ujarnya.

Maryatun menyebut kesepakatan dan harga tersebut diberlakukan setelah adanya keputusan bersama antara pengusaha tahu dan tempe di Mimika.

“Kemarin kan sempat mogok 2 hari jadi hari senin kita sudah kasih naik. Selama ini dipertahankan, dikecilkan, tetap saja tidak bisa nutupi,” katanya.

Wanita yang sudah membuat tempe sejak 2002 tersebut meminta pemerintah untuk memperhatikan pedagang tempe di Mimika.

“Memang berat sih, maunya pemerintah memperhatikan, kaya rakyat kecil begini kalau bisa disubsidilah entah berapa. Semua pedagang tahu tempe kayanya menjerit betul, cuman mempertahankan usaha saja, kalau di lihat keuntungan itu kayanya sejak corona sampai sekarang saja tipis lah, boleh dikatakan untuk putaran (bertahan agar usaha tak tutup) saja,” ungkapnya.

Menurut Maryatun kenaikan kedelai merangkak secara perlahan sejak awal corona, bahkan menurutnya sudah tidak dapat dikendalikan.

“Jadi kita pertahankan saja untuk gaji karyawan, dan beli bahan baku, awal-awal saya tidak pernah pinjam di bank sampai kemarin itu terpaksa saya pinjam ke bank, biasanya 1 kontener Rp 180 juta, naiknya paling Rp 190 juta sekarang sampai Rp 307 juta, saya pesannya langsung 1 kontener. Dari Surabaya,” terangnya.

Alternatif pengiriman lain pun menurutnya masih relatif tinggi sebab kata Maryatun pengiriman ekspedisi yang biasanya Rp 18 juta, sudah naik menjadi Rp 21 juta.

Sehari produksi tempe dan tahun pabrik milik Maryatun dapat menghasilkan sekital 4 kuintal.

Sementara itu seorang pedagang tempe di pasar sentral Mimika Mujiyanti meminta kepada pemerintah untuk bisa membantu memberikan subsidi kontainer.

“Saya minta bupati dan Wabup tolong kontener ini menurun sedikit biar tahu tempe jangan kesulitan, harga kedelai naik, kontener juga naik,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan saat ini harga tempe yang dijualnya masih berkisar Rp 5.000 rupiah per tiga biji sementara tahu Rp 2.500 rupiah per bijinya.

Sementara itu dikutip dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan harga kedelai impor di Provinsi Papua terpantau berkisar Rp 15.900 per kilo.

Writer: AjiEditor: Sani

Leave a Reply

error: Hak Cipta antarpapuanews.com
WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE
%d bloggers like this: