Dirgahayu Polwan Indonesia, Ini Sosok 2 Srikandi Binmas Noken Polri yang Memajukan Pendidikan di Papua

banner

Timika, antarpapuanews.com – Hari ini, 1 September 2020 merupakan hari ulang tahun (HUT) Polisi Wanita ke-72. Tak terasa, masyarakat di seluruh Indonesia telah menerima pengabdian yang tulus dari para srikandi-srikandi (polwan) ini selama 72 tahun lamanya.

Beberapa pengabdian polwan terhadap bangsa dan negara ini begitu banyak, sehingga tak mungkin bila dikisahkan satu per satu secara lengkap.

Salah satu pengabdian luar biasa yang dilakukan oleh dua srikandi muda asal Papua yakni Briptu Susan Rumere (Ditreskrimum Polda Papua) dan Briptu Syerli kafiar (Ditlantas Polda Papua).

Susan dan Syerli telah lama bergabung ke Binmas Noken Polri. Binmas Noken Polri selalu aktif dan gencar melakukan berbagai kegiatan demi meningkatkan sumber daya manusia yang ada di seluruh wilayah Papua.

Salah satu program Binmas Noken Polri yang aktif diikuti oleh Susan dan Syerli yakni Polisi Pi Ajar. Program ini bersentuhan langsung dengan anak-anak yang tidak bisa terjangkau oleh pendidikan formal.

Diketahui juga jika anak-anak kampung ini sempat mengalami kejadian perang suku seperti kampung Kwamki Narama di Timika.

Susan dan Syerli saat melaksanakan kegiatan belajar, menggunakan metode pengajaran tentang nasionalisme.

Membaca, bermain, memperkenalkan nasionalisme, membaca peta Indonesia, keberagaman budaya di Indonesia, pahlawan Papua, menyanyikan lagu-lagu daerah dan kebangsaan.

Beberapa lokasi yang sudah mereka kunjungi dalam program tersebut yakni kampung Kwamki Narama, Kampung Jayanti, kampung Utikini dan kampung-kampung lainnya Di Kab Mimika, termasuk di wilayah Kabupaten Puncak Jaya contohnya Di Kota Mulia.

“Harapan kami di Papua mereka lebih pintar dan memahami nasionalisme,” ucap Syerli. Mereka semua, lanjut Susan, paham betul Papua adalah bagian dari Indonesia.

“Mereka juga mensyukuri pemerintah telah memperhatikan Papua sebagai contoh polwan-polwan Papua yang mengabdikan diri di tanah Papua,” lanjut Susan.

Sebenarnya, masih banyak kendala dan hambatan yang dihadapi oleh mereka. Dalam mengajarkan anak di Papua, masih banyak ajaran-ajaran dan pemahaman dari kelompok-kelompok tertentu yang mempengaruhi hal yang tidak baik.

“Kami akan senantiasa memberikan yang terbaik dari Papua untuk Papua,” tutup Susan. (APN)

Tinggalkan Pesan Anda