fbpx

Teh Acanthus, Hasil Hutan Asli Mimika yang Siap Jadi Primadona

  • Share

Timika, APN – Teh Acanthus atau Teh Mangrove produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Mimika yang berkhasiat untuk kesehatan.

Produk Teh Acanthus

Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan Dinas Kehutanan Kabupaten Mimika, Maryana J E Hamadi dalam kegiatan Ekspose hasil pembinaan dan pendampingan pengelolaan HHBK Kelompok Tani Hutan (KTH), di Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Mimika, Jumat (19/11/2021).

Ia menambahkan produk teh Mangrove yang dihasilkan merupakan hasil kerjasama dengan Yayasan Ekologi Sahul Lestari.

“Jadi petani yang ada disini merupakan binaan Dinas yang kami sebut Kelompok Pigapu Aimaporamo, kegiatan ini juga sekaligus menjadi rangkain penutup dari proyek pendampingan dan penelitian juga pelatihan oleh Sahul Lestari yang selama empat bulan ini di Mimika. Hasil pendampingan itulah yang akan kami expose dalam kegiatan saat ini, jadi empat bulan pendampingan hasilnya apa,” katanya saat ditemui wartawan.

Salah satu hasil produk yang fokus dikembangkan oleh pihaknya adalah teh dari daun mangrove.

“Jadi dari kegiatan ini kami ingin agar Pemerintah Kabupaten Mimika memberikan dukungan maupun sektor swasta, kami undang, SLD PTFI, Koperasi Maria Bintang Laut, Gelael, Sharon Mart, dan Diana Supermarket, harapannya pihak swasta dapat memberikan bantuan pemasaran dan memperkenalkan produk teh ini,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator program kegiatan Desa Berinovasi Kabupaten Mimika Simon Perez yang juga perwakilan dari Yayasan Ekologi Sahul Lestari mengatakan telah melakukan pendampingan selama empat bulan dengan tahapan  melakukan pembangunan rumah produksi, menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah sehingga menghasilkan sebuah kebijakan.

“Jadi kita kegiatannya ada pelatihan sumber daya manusia khususnya kelompok mama-mama pigapu aimapuramo, ada pelatihan budidaya juga, peningkatan ekonomi rumah tangga, selain itu penelitian kami juga menghasilkan jurnal ilmiah dan penelitian berdasarkan hasil kerjasama dengan Universitas Mercu Buana Jakarta,” tuturnya.

Ia menambahkan hasil penelitian tersebutlah yang akhirnya dibuat menjadi minuman siap saji berupa teh.

“Hasil dari labotatorium di Riau itu sudah ada, jadi ada 30 Panelis yang memberikan pendapat atau penelitian dan hasilnya semua baik, berdasarkan hal tersebut kami akan dorong produk ini agar ada kebijakan pemerintah sehingga dapat menjadi produk unggulan Kabupaten,” terangnya.

Ia menambahkan, percaya mama-mama Papua dengan jumlah total 22 anggota kelompok dan 15 non anggota dapat mengembangkan produk teh manggrove tersebut, setelah selama empat bulan telah melakukan pendampingan.

“Jadi kami hanya pendampingan hanya fokus di teh, kami sudah pasarkan di PON Mimika dan Provinsi, kerjasama dengan CDK. Pendanaannya kami dipercaya dari Bank Papua. Produk teh ini kami sudah urus izin edar hingga PIRT nya, jadi sudah ada semua, waktu PON itu akhirnya kami berani untuk pasarkan,” jelasnya.

Simon mengaku animo peminat teh lumayan banyak, bahkan atlet-atlet saat PON juga menyukai, produk HHBK in.

“Teh memang paling laku, dan dominan terjual, kami optimis sekali, sampai target itu kami kerjasama untuk pemasaran secara online. Hasil penjualan sejauh ini kami berhasil menjual 103 kilogram teh dengan hasil 20 jutaan lebih,” tutupnya. (Aji)

  • Share

Leave a Reply

%d bloggers like this: