fbpx

Harga Sayur di Timika Anjlok Selama Pandemi

  • Share
Ilustrasi suasana pasar sentral kabupaten Mimika, terlihat beberapa pedagang sedang berjualan

Timika, antarpapuanews.com – Pandemi covid-19 cukup berdampak secara khusus bagi petani dan pedagang di kabupaten Mimika. Harga sayuran di pasar anjlok.

Petani yang tergabung dalam kelompok tani Margo Luhur yang di Kelurahan Inauga, Distrik Iwaka mengeluh karena turunya harga sayur di pasaran selama pandemi.

Pengurus Kelompok Tani Margo Luhur, Suparno mengatakan turunnya harga sayur di pasaran terjadi karena banyaknya sayuran yang tersedia di pasaran. Namun pembeli sedikit.

“Sayuran sekarang sedang membludak mas, jadi harga sayur jadi turun drastis,” ujarnya saat ditemui di Kelurahan Limau Asri, Iwaka, Rabu (23/9).

Ia menambahkan, kebutuhan masyarakat akan sayuran memang menjadi hal yang positif akan tetapi juga terdapat efek negatif dari fenomena tersebut.

“Sekarang semua orang belanja sayurnya banyak buat persediaan karena pandemi ini, jadi otomatis permintaan meningkat, tetapi di sisi lain harganya jadi murah. Contohnya kemarin tomat itu bisa dijual dengan harga Rp15 ribu per kg, sekarang dapat Rp5 ribu saja susah,” ungkapnya.

Menurut Sanawi, harga sayuran di pasaran yang turun juga diakibatkan oleh masuknya sayuran yang berasal dari luar Kabupaten Mimika.

“Sayuran dari luar itu sangat memukul kami, artinya Pemda harus juga membatasi. Bukan tidak boleh, tetapi lebih diseimbangkan dengan hasil petani lokal juga, jadi adil,” ujarnya.

Ditanya terkait dengan solusi, Sanawi mengatakan pihaknya hanya dapat berharap pandemi segera berlalu dan harga bisa kembali normal.

“Kita tidak bisa mengurangi produksi, karena dengan produksi yang besar saja kita hancur apalagi menguranginya,” tegasnya.

Senada, pedagang sayuran yang berjualan di Pasar Sentral Mimika, Marto mengatakan adanya pandemi cukup berdampak besar pada keuntungan atau omset yang diraupnya.

Marto, saat sedang melayani pelanggannya di Pasar Sentral Mimika, Rabu (23/9)

“Sebelum terjadinya pandemi ini, omset Rp2 – Rp5 juta perharinya. Tetapi setelah adanya pandemi ini cukup signifikan penurunan omsetnya. Sekarang saya hanya bisa dapat Rp1 juta,” ungkapnya.

Menurutnya meskipun sayuran berlimpah di pasaran, sebagai pedagang dirinya lebih memilih untuk mengurangi stok sayuran untuk menghindari dampak kerugian karena pandemi.

“Barangnya banyak mas, karena harganya murah tapi kalau yang beli sepi kan sama saja,” Pungkasnya. (Aji)

  • Share

Leave a Reply

%d bloggers like this: